0

Dear teman-teman Buruh

Saat para teman-teman dokter yang kuliah mahal-mahal rela tak digaji, saat para guru yang cuma manusia biasa dituntut memperbaiki akhlak anak-anak ada yang hanya digaji 300rb/bulan bahkan teman-teman guru yang diperbatasan pun jarang tak digaji..
Kalau kami bersatu dan menuntut digaji lebih boleh?
Efek nya biaya Kesehatan dan Pendidikan lebih mahal mau?
Bukannya saya mau merendahkan para teman-teman buruh, tapi kalau kalian terus menuntut gaji dan tunjangan tinggi dengan title pendidikan seperti itu sampai kapan para investor asing akan bertahan?
Kalau mereka sudah menyerah kalian mau kehilangan pekerjaan?

Think before you act!
Ayo lah teman-teman buruh Stop it!
TIDAK ADA GAJI YANG KURANG, YANG ADA HANYA GAYA HIDUP YANG BERLEBIH!

0

A letter for my mom

Halo Ma,

Apa kabar?

Ah, rasanya ganjil sekali melontarkan itu. Kita satu rumah, namun jarang kutanyakan kabarmu. Anak macam apa aku ini. Makanan yang kau sediakan di atas meja tak lantas membuatku peduli kabarmu saban hari. Maaf ya, Ma.

Ma,

Mungkin kita jarang berbicara. Saat membuka mulut pun, hanya adu argumen yang ada. Rasanya susah sekali menahan diri. Apapun yang ada di kepala, aku lontarkan semua. Begitu terucapkan, aku hanya bisa menyesal.

Mama mungkin sudah biasa. Menghadapi ego dan kesoktahuan anaknya. Dari dulu, pikirmu. Tidak apa-apa. Engkau tersenyum, dan tersenyum saja.

Mamaku yang cantik,

Apa aku boleh bertanya? Bagaimana bentukku saat aku keluar dari rahimmu? Aku penasaran, Ma. Hanya bisa kubayangkan sakitnya. Dari situ pikiranku melanglang: ketika 9 bulan membawaku, hal-hal ganjil apa saja yang kulakukan terhadapmu? Bagaimana perasaanmu ketika tahu rasa sakitmu sebagai ibu tak hanya kau derita saat melahirkan saja? Dari situ aku bisa mengerti, betapa sabar dirimu selama ini.

Tapi harus kuakui. Kadang memang aku heran pada sikapmu. Mama pernah marah-marah ketika aku main ke rumah teman sampai jam 10 malam. Mama sibuk meneleponku untuk pulang, padahal aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku aman.

Aku tahu Mama takut terjadi apa-apa denganku di jalan. Tapi tenanglah, Ma. Aku pasti bisa menjaga diri. Bukankah Mama sendiri yang mengajarkan aku untuk berani? Mungkin memang sulit Mama percayai, tapi aku sekarang sudah besar. Sudah tahu bagaimana melindungi diriku sendiri di jalan. Mama ingat pernah menasihati supaya aku pandai berteman? Nah, kini aku punya teman-teman yang bisa kuandalkan ketika aku pulang terlalu malam.

Ma, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Aku takut melihatmu menangis. Aku tidak tahan melihat air matamu keluar. Apalagi ketika aku harus pergi ke tempat yang jauh dari rumah.

Saat aku hendak berkelana sementara, Mama membuktikan perhatian dengan mempersiapkan barang bawaan untukku. Sayangnya, terkadang aku sendiri bingung barang-barang itu harus aku apakan.

“Ini mama siapin selimut. Bawa ya!”

“Aduh, ntar beli aja di sana. Berat tauk ma!”

Aku masih ingat itu. Aku menolak barang-barang yang sudah kau siapkan untukku. Hanya ketika mau berangkat, aku mengangkutnya ke bagasi. Dengan berat hati, dan separuh mencak-mencak tak mengerti.

Namun saat jauh, aku rindu padamu. Ah…Untunglah ada barang-barang ini. Kupeluk saja selimut yang Mama siapkan. Aku tidak jadi kedinginan.

Ma,

Bolehkah aku bertanya tentang impianmu saat muda dulu? Ketika umur 5, 10, atau seumurku, cita-cita apa yang sebenarnya Mama gantungkan? Dokterkah, layaknya anak-anak pada umumnya? Atau malah Mama punya cita-cita yang lebih unik, seperti fotografer dan penulis buku?

Maaf ya Ma, gara-gara aku, Mama harus berhenti mengejar impian masa kecil Mama. Karena keberadaanku, Mama harus rela mengambil apapun kesempatan berkarya yang ada, dan bekerja 2 kali lebih keras dari seharusnya.

Ya,

Aku melihatmu sebagai seorang pekerja keras. Bahkan tugas-tugas rumahan sebenarnya menyedot banyak tenaga dan waktu luang. Pagi-pagi sekali, Mama harus bangun untuk memasak sarapan. Selanjutnya, Mama harus menyiapkan peralatan sekolahku. Mama harus mengantarku ke sekolah, berbelanja agar di rumah ada yang bisa dimakan.,,

Kadang, kalau aku sedang rajin aku akan berusaha membantumu semampuku. Tapi Mama pun tidak selalu memperbolehkanku membantu. “Sudah belajar, belum?” tanyamu.

ya, Mama banyak bertanya. Pertanyaan Mama pun sebenarnya selalu sama: “Sudah makan belum?”, “Sudah sholat?” Kalau aku menjawab “belum”, nada bicaramu langsung berubah dan sifat cerewetmu mulai keluar. “Ah, Mama ngoceh terus! Kalau belum sempat gimana dong, Ma?” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku. Pusing rasanya mendengar ocehan Mama. Mama tidak tahu ‘kan, saat Mama menelepon aku sengaja menjauhkan ponselku dari telinga karena bosan mendengar ocehan Mama? Maaf ya, Ma.

Di saat aku jauh dari rumah, banyak hal yang aku lakukan tanpa sepengetahuan Mama. Ada beberapa hal yang kutahu tak boleh aku langgar, namun tetap aku lakukan. Harus kuakui, ketika melakukannya, aku terhibur dan sedikit bangga.

Aku jahat ya, Ma? Aku anak pembohong. Mama masih mau menyayangi anak pembohong sepertiku?

Izinkan aku mengatakan sesuatu yang belum sempat kusampaikan langsung. Aku tidak tahu kapan kita akan berpisah. Ada saatnya, aku akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Atau mungkin saja Mama yang mengantarkanku. Apapun akhirnya, akan ada saat dimana kita berdua harus rela. Kapanpun itu, hanya Yang Disana yang tahu. Aku hanya ingin mengingat bahwa kita pasti kembali bertemu.

Mama, Ibu, Ibundaku…

Terima kasih sudah memutuskan memilikiku. Terima kasih sudah memperkenalkanku pada dunia. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan.

Maafkan anakmu ini: yang selalu membuatmu was-was, yang selalu bertindak semrawut, yang tak cukup sering menyapu rumah…ah!

Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik lagi untukmu. Secerewet apa pun dirimu, Mama tetap wanita nomor satu bagiku.

Aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Mama pun tak tahu anak seperti apa yang akhirnya lahir dari rahim Mama. Tuhan yang mempertemukan kita.

Aku bersyukur bisa berkenalan dengan Mama. Tersenyumlah, Ma,

Penggemar beratmu nomor satu,

Anakmu.

0

Cita-Cita KU

aahhh, akhirnya nulis lagi🙂
tulisan yang sekarang tentang ‘perjalanan’ pendidikan gw..
tulisan kali ini disponsori oleh ngajarin tentang pembuluh darah ke anak kelsa 5 tadi pagi..

inget banget dari dulu kalo ditanya ‘neng gede mau jadi apa?’ dan gw selalu jawab ‘DOKTER’
sebenernya sampe sekarang pun kalo nonton “Grey’s Anatomy” atau “Royal Pains”
greget gimana gitu kalo nontonnya..

ditambah liat teteh gw semua di jurusam kesehatan, plus epupu gw di kedokteran MEMBARALAH semangat in!!!!!
saking pengennya jadi dokter ambil jurusan kuliah kedokteran semua ngga ada satupun yang jurusan lain..
dan saking ngotot nya ternyata ngga ada 1 pun yang keterima *sakitnya disini bro!*

haha , tapi sekarang sadar dengan sendirinya kenapa Allah ngga mengizinkan buat gw jadi dokter..
secara, kalo gw udah ngantuk itu mata ngga bisa diajak kompromi gimana pas lagi operasi bisa-bisa malpraktek.. kalo udah tidur kaya orang lagi pingsan suseh banget bangunnya kalo tiba-tiba lagi jaga trus ada pasien sekarat gw dibangunin nya susah bisa-bisa lewat itu pasien .. belom lagi kalo gw lagi mandi itu lamanya mintaa ampun ntar kalo ada pasien yang sekarat gimana? bisa-bisa lewat lagi ajaaaa…

Honestly still dissapointed with my self.. but now i’m so proud being a teacher, lebih banyak pelajaran yang diambil dari para bocah yang minta diajarin itu walaupun udah minta tapi lupa belajar hahahahha…

untuk membayar kekecewaan gw selalu berfikir “NGGA ADA GURU NGGA AKAN ADA PROFESI LAINNYA”
pasti langsung pada b ilang ih PD amat sih jadi guru!
iyalah PD plus bangga secara, sadar atau tidaak, ngga bisa dipungkiri semua profesi akan berawal dari seorang guru yang mengajarkan banyak hal hhahahaahahahahahaha

udah ah nulisnya cape..
intinya adalah apapun yang tuhan berikan just trust THAT THE VERY BEST THING OF YOUR LIFE!!!

0

Good Parents or Mean Parents?

Entah kenapa tiba-tiba saya menulis tentang menjadi orang tua padahal dalam kehidupan nyata saya belum menjadi istri seseorang apalagi menjadi seorang orang tua..
The strong reason is saya lelah menyaksikan tingkah pola orang tua jaman sekarang..
momyellsatgirl Sadarkah mereka ketika mereka memberitahu anak dengan berteriak anak justru cenderung tidak mendengar?
Sadarkah mereka ketika mereka memukul, mencubit, menjewer, dan lain sebagainya cenderung membuat anak akan melakukan hal yang sama nantinya?
Sadarkah para orangtua apa yang dilakukan oleh si anak adalah refleksi dari diri orangtuanya?
Apakah dengan menghujani mereka janji, mainan, dan gadget akan membuat mereka menjadi yang kita inginkan?
Apakah dengan membadingkan dengan orang lain anak kita akan menjadi lebih baik?
Menjadi orang tua itu memang bukan perihal yang mudah ..

Menjadi orang tua butuh kesebaran ekstra menghadapi berbagai macam sifat yang mungkin muncul dari si anak.
Mungkin kita sering mendengar dari para orangtua terdahulu bahwa mereka di didik oleh orang tuanya dengan sangat keras dan menghasilkan keberhasilan mereka.. dan mereka akan menerapkan hal yang sama dalam mendidik kita, tapi apakah itu berhasil kepada anak kita nantinya?

Perlu diingat Zaman sudah berubah, sekarang bukan saatnya mendidik anak dengan cara yang keras.. bukan lagi saatnya kita menjadi seorang DITAKTOR.. Kenapa-Orang-Tua-Marah-300x222

Saat anak melakukan kesalahan tidak seharusnya para orang tua men-judge anak-anak lah satu-satu nya pelaku yang sangat mungkin melakukan kesalahan, banyak dari orang tua saat si anak melakukan kesalahan akan langsung mongomel dengan berbagai cara.. mengapa tidak coba merangkul mereka?

Saat anak tidak ingin melakukan apa yang di suruh para orangtua pasti langsung mengeluarkan ancaman.. ingat sekali lagi MUNGKIN itu berhasil terhadap kita, tapi terhadap anak-anak kita? Belum tentu , justru mereka akan cenderung mengabaikan apa yang kita suruh.. mengapa tidak kita coba menambahkan satu dari kalimat super yaitu “Tolong sayang”?

Saat kita memberitahukan mereka dengan suara yang keras atau berteriak , mereka cenderung akan mengabaikan apa yang kita bicarakan.. cobalah dengan suara yang lembut tapi mengandung ketegasan didalam nya.

Para orang tua cenderung akan membanding-bandingkan anak nya dengan orang lain entah itu teman nya atau saudaranya seperti saat nilai si anak jelek atau menurun, mungkin ada anak yang akan termotivasi TAPI tidak semua anak malah si anak akan cenderung tidak akan mengerjakan nya lagi karena dia berfikir bahwa apapun yang dikerjakan atau dilakukannya akan terlihat sama bagi orang tua nya.. kenapa tidak kita mulai dengan kalimat motivasi dan pujian seperti “ waw Good Job, lain kali harus lebih baik lagi yah nak”

Hal-yang-Tidak-Boleh-Diucapkan-Orangtua-Kepada-Anak-300x300 Saat orangtua ingin didengar juga oleh anak-anak mereka orang tua akan cenderung mengatakan “kapan kamu mau dengar kata ibu/ayah?! Ibu/ayah kan selalu mendengar apa kata dan mau kamu!” mengingatkan anak tentang Hak dan Kewajiabn itu memang perlu tapi itu semua ada seninya.. kenapa tidak mulai dengan pendekatan 2 arah contoh biarkan anak sebagai “pembicara” dan orang tua sebagai “pendegar” lebih dulu baru sebaliknya, karena sifat anak yang mudah bosan cenderung membuat mereka tidak akan mendengar apa yang kita bicarakan dan cenderung akan lupa dengan apa yang akan dia utarakan.. Ini juga bisa jadi senjata untuk kita mengetahui apa yang anak mau tanpa harus berteriak dan anak juga akan tahu apa yang kita mau tanpa harus mendapatkan omelan..

Tidak ada salahnya menjadi orang tua yang tegas dalam segala hal, tapi perlu diingat anak adalah anugerah yang di titipkan oleh sang maha pencipta..
Tak ada salahnya menginginkan anak kita menjadi lebih baik dari kita, tapi tidak ada salahnya juga menjadi pendengar bagi mereka
So it’s now our choice be a Good Parents or Mean Parents?🙂
gti4uuxa

0

Memorize of you :)

Tiba-tiba inget masa-masa sama almarhum papa..
1. Beliau itu pelit ngasih pujian orangnya tapi kalo udah ngasih wew, bikin melayang boo.. pernah pas gw umur 9 tahun pas gw mulai belajar gimana caranya minum obat tablet, beliau bilang gw pasti ga bs secara cium bau nya aja udah nangis.. Eh ternyata gw langsung bisa haha, tapi tetep beliau ga mau muji gw alesannya ga mau jadi kebiasaan ( -_-“) .. Trus pas gw umur 12 thn pas pertama kali belajar masak, inget banget masakan pertama yang gw buat adalah sayur asem, beliau bilang ah paling juga keasinan, dan ternyata beliau yang makan paling banyak (gembul amat sih pah -_- ) dan lagi2 kaga ada tuh pujian yang keluar dari mulut beliau.. nah pujian pertama kali yang keluar dan bikin gw melayang adalah pas gw umur 14 beliau bilang “ya Allah bidadari kecil papa udah gede, cantik lagi🙂 (nb: ini bukan muji diri sendiri yah reader)” oh God sumpah yah itu kata-kata terindah..
2. Beliau itu gengsi super duper (nurun dah ke gw -_-“) pernah pas beliau kasih kabar jatuh dari motor tapi dengan enak nya pulang sendiri ga minta dianter siapapun padahal luka nya lumayan alesannya “ah repot amat pake acara jemput2!” (ga tau apa kita pada khawatir (-.-)/*(-_-“) ).
3. Beliau itu over dosis protective! Pas gw belajar bawa sepeda dan jatuh dan seperti biasa nangis (sakit reader sumpah dah😥 ) besok nya ga blh lg gw belajar bawa sepeda.. Pernah jg pas smp kelas 1 gw pulang jam 6 mlm itu yah pecah dah perang dunia ke3, padahal gw pas kls 1 kan masuk jam 12 siang yaiyalah jam 6 gw br balik *pembelaan diri* semenjak saat itu gw punya tukang anter jemput, kalo beliau sempet beliau sendiri yang jemput..
4. Beliau suka garing ga jelas sendiri kalo yg ini mah susah dah dijelasin nya..
4. Panggilan sayang dari beliau itu neng..
5. Kalo lagi kesel bin sebel beliau akan panggil gw “neng badedot” yg artinya neng Gendut (ah kaya papa ga aja :p) tapi kalo udah nyebut panggilan itu beliau pasti ketawa sendiri..

Masih banyak kenangan tentang beliau yang kadang bikin ketawa, nangis dll

Miss you so pa :*

0

puisi buat papa :’)

Masih segar goresan luka kepergianmu

Masih membayang kenangan indah masa lalumu

Kini semua benar2 telah berlalu

Sedih ini bercampur pilu

Tangis ini bercampur rindu

Sesungguhnya aku masih butuh kasih sayangmu, masih ingin dipelukanmu

namun.. apalah dayaku kini ku hanya bisa memandang nisanmu, mengenang jasa dan kebaikanmu, menuruti semua nasihatmu

Papa

Do’a ku ini mengiringi perjalananmu

Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu

Semoga Allah menerima amal ibadahmu

Dan semoga tempat yang layak ditujukan untukmu

Aku, slalu menyayangimu

Semasa kecil kami belum mengerti

apa arti pengorbanan seorang papa

selalu berjuang demi kebutuhan anak mu

tanpa mengenal waktu

engkau rela di hina dan di maki

demi anak-anak mu

Papa…

saat detik kepergian mu

menghembus nafas terakhir

kami seperti tak percaya

karena beberapa detik

engkau telah pergi untuk selamanya

Papa…

maafkan anakmu ini

yang belum mampu membahagiakan diri mu

di waktu hidup dan tua mu

Papa…

betapa anak mu kehilangan

dan selalu terbayang wajah mu

serasa engkau masih bersama kami

Ya As- sami’…

Engkau maha mendengar

perkenankan permohonan kami

Ya Al-Ghafur…

ampuni dosa dan kesalahan papa kami

semasa hidup dan mati nya

Ya Al-Maajid …

tempatkan ia pada kemuliaan Mu

karena disisi Mu tempat kemuliaan kami

Papa…

kami anak-anak mu

kini hanya dapat mendo’akan mu

semoga engkau tenang di sisi Nya

Aamiin